Kue cubit merupakan salah satu camilan tradisional Indonesia yang sangat digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Di kota Cibinong, Bogor, Jawa Barat, tren kue cubit semakin berkembang berkat inovasi-inovasi yang dilakukan oleh para pelaku UMKM. Salah satu nama yang mencuat dan menjadi inspirasi dalam perjalanan bisnis kue cubit di daerah ini adalah Diah Pratiwi.
Diah Pratiwi lahir dan besar di Cibinong, sebuah kawasan yang berkembang pesat di Kabupaten Bogor. Sejak kecil, Diah telah terbiasa melihat kegigihan orang tuanya yang berdagang makanan kecil di pasar tradisional. Dari situlah, ia mengenal berbagai resep camilan tradisional, salah satunya kue cubit.
Setelah menikah dan mempunyai anak, Diah sempat bekerja di kantor selama beberapa tahun. Namun, seiring waktu ia merasa ingin memiliki usaha sendiri agar bisa lebih dekat dengan keluarga dan memiliki waktu yang fleksibel. Ia memilih berhenti bekerja dan mulai merintis usaha kuliner dari rumah dengan bermodalkan keterampilan membuat camilan yang ia dapat dari orang tuanya.
Tahun 2014 menjadi titik awal usaha Kue Cubit Cibinong milik Diah Pratiwi. Awalnya, ia membuat kue cubit untuk dijual di sekitar lingkungan rumah. Dengan rasa klasik dan harga yang terjangkau, kue cubit buatannya cukup diminati tetangga dan kerabat.
Pembeda usahanya adalah Diah berani bereksperimen dengan berbagai varian rasa dan topping, seperti green tea, red velvet, taro, keju, cokelat, hingga marshmallow. Melihat antusiasme pelanggan, ia mulai memperluas pemasaran, menawarkan kue cubit ke sekolah-sekolah, kantor, hingga marketplace daring.
Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, Diah sadar bahwa inovasi adalah kunci agar usahanya tetap diminati. Ia mengikuti beberapa pelatihan UMKM dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi.
Pemasaran yang konsisten di Instagram, Facebook, dan WhatsApp membantu Diah memperluas jangkauan pelanggan. Tidak hanya dari Bogor, pembeli datang dari Jakarta, Depok, bahkan luar Pulau Jawa.
Perjalanan usaha Diah Pratiwi tentu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami masa-masa sulit saat pandemi COVID-19 melanda. Penjualan menurun drastis dan banyak pesanan dibatalkan. Namun, dengan semangat pantang menyerah, Diah mencari cara dan berinovasi dengan membuka layanan pesan antar dan sistem pre-order.
Selain itu, ia juga aktif mengikuti bazar UMKM baik secara online maupun offline. Perlahan namun pasti, permintaan mulai meningkat kembali. Dukungan keluarga dan rekan sesama pelaku usaha lokal memperkuat tekadnya untuk terus berusaha.
Beberapa faktor utama kesuksesan Diah Pratiwi dalam membangun Kue Cubit Cibinong di antaranya:
Kisah Diah Pratiwi telah menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di Cibinong dan sekitarnya untuk berani memulai usaha meskipun dari rumah dengan modal terbatas. Ia juga aktif berbagi ilmu melalui workshop kecil di lingkungan RT maupun melalui media sosial.
Harapan ke depan, Diah ingin membuka kedai kue cubit yang lebih besar dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Ia juga bermimpi untuk membawa Kue Cubit Cibinong go internasional, agar camilan tradisional Indonesia semakin dikenal di dunia.
Berkat dedikasi Diah Pratiwi, kue cubit kini menjadi salah satu ikon kuliner khas Cibinong yang banyak dicari wisatawan dan masyarakat lokal. Tidak sedikit pelanggan yang datang berkunjung ke Cibinong hanya untuk mencicipi kue cubit buatannya yang lezat dan unik.
Cerita sukses Diah Pratiwi membuktikan bahwa usaha yang dijalankan dengan cinta, inovasi, dan kerja keras dapat membawa perubahan besar. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi berkah untuk keluarga dan lingkungan sekitar.
Kisah perjalanan Diah Pratiwi dan Kue Cubit Cibinong merupakan contoh nyata bahwa peluang usaha bisa ditemukan di mana saja jika kita mau berusaha dan berinovasi. Bagi Anda yang ingin memulai bisnis kuliner, jangan ragu untuk mengambil inspirasi dari Diah—mulai dari yang kecil, kembangkan kreativitas, manfaatkan teknologi, dan jangan takut pada tantangan. Siapa tahu, usaha sederhana Anda bisa menjadi ikon kuliner berikutnya dari daerah sendiri.